Categories
Uncategorized

Kisah Sukses Masyarakat Mengelola Hutan Desa Merabu

Desa Merabu

Desa Merabu di Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau adalah sebuah desa yang pantas dijadikan contoh bagaimana masyarakat desa dapat bangkit dari keterpurukan ekonomi lewat keberhasilan mereka melakukan pengelolaan hutan desa. Kepala Desa Merabu Agustinus bercerita, kisah Kampung Merabu merupakan sebuah pengalaman perjuangan masyarakat yang ada di dalam kawasan hutan, yang sedikit berbeda.

Cerita Di Kampung-Kampung Lainnya

Gimana narasi ini kira- kira berlainan, bila desa lain dapat maju sebab terdapat industri masuk, desa Merabu merupakan desa yang mandiri, hijau kekal malah tanpa terdapat pemodalan dari industri, sedikit sangat jarang, ini ia posisi kita, poker pelangi ucap Agustinus, dikala menguraikan cerita berhasil masyarakat desanya, di kegiatan Lingkar Berlatih Mandiri Warga Kaltim, di Tanjung Batu Berau.

Tahap kita membuat Merabu jadi dusun hijau diawali semenjak tahun 2012 semenjak kehadiran sahabat TNC. Tutur Agustinus membuka kisahnya. Sedikit melawat ke balik, warga Merabu yang biasanya merupakan masyarakat kaum Dayak Kelay, merupakan warga yang telah semenjak lama hidup dengan menggunakan hasil hutan yang diatur dengan cara kekal. Pemasukan penting mereka merupakan dari mengutip serta menjual petarangan kukila walet yang ada di gua-gua yang terletak di area itu.

Sampai tahun 1990- an, nafkah dari petarangan walet sanggup mendongkrak keselamatan warga. Pada umumnya warga Merabu sanggup meraup pemasukan sampai Rp15 juta sebulan dari hasil menjual petarangan walet. Tetapi kehidupan mereka setelah itu mulai berganti semenjak dini tahun 2000- an. Masuknya industri perkebunan sawit ke areal hutan dimana mereka bermukim jadi dini musibah untuk warga Merabu.

Dampak awal tanah sawit, gua-gua di dekat hutan tempat hidup masyarakat Merabu tidak lagi ditempati walet. Kala itu dari puluhan terowongan, cuma tertinggal 5 terowongan yang sedang ditempati walet serta mereka sedang membuat petarangan. Namun cinta, karena area itu dilelang oleh pemda, hingga warga tidak lagi dapat mengutip petarangan walet. Hak pengurusan petarangan walet turut jatuh ke tangan industri serta warga juga turun golongan cuma jadi pekerja.

Fase Kritis Di Masyarakat Merabu

Pada fase-fase yang kritis itu, masyarakat Merabu setelah itu berjumpa dengan pihak TNC di tahun 2012. Kita ngobrol, beranggar pikiran kemudian mempertimbangkan gimana mengatur area hutan yang terdapat yang telah diresmikan bagaikan hutan lindung. Dalam kondisi pemodalan, kita puntung sebab masuk hutan lindung negeri, kita tidak bisa apa-apa, tutur Agustinus.

Asian warga Merabu mempunyai jalur pergi dengan terdapatnya desain perhutanan sosial dimana warga berkuasa mengajukan status hutan dusun. Tahun 2013 kita usulkan hutan dusun, setelah itu tahun 2014 kita bisa SK Kemenhut, ucap Agustinus.

Desa Merabu merupakan desa awal di Kabupaten Berau yang mendapatkan pengakuan atas Hutan Dusun. Pengakuan ini tertuang dalam Pesan Ketetapan Menteri Kehutanan No 28 atau Menhut- II atau 2014 bertepatan pada 9 Januari 2014, mengenai Penentuan Areal Kegiatan Hutan Dusun Merabu seluas 8. 245 hektare.

Apa yang kita jalani di dalam hutan dusun? Awal mulanya sehabis diberi hak mengurus kita membuat badan mengurus Kerima Istana. Sebab terdapat peraturan kalau wajib diatur BUMDes, kemudian kita terjemahkan jadi BUMDes dengan julukan Kerima Istana. Ini memakai bahasa wilayah biar lebih menempel, dempak Agustinus.

Generator Listrik Daya Surya

Lewat BUMDes Kerima Istana, warga Merabu mengatur 5 bagian aktivitas upaya. Bagian awal merupakan pengurusan darmawisata yang diatur oleh kanak- kanak belia. Kedua, stasiun pompa gasolin biasa (SPBU) kecil yang dimodali dari anggaran dusun langkah awal sebesar Rp60 juta.

Anggaran itu pula dipakai buat membantu bagian upaya air bungkusan. Bagian bidang usaha ketiga merupakan pengurusan Generator Listik Daya Surya (PLTS) komunal yang melayani listrik untuk masyarakat Merabu sepanjang 24 jam penuh dengan sistem token.

Bagian bidang usaha keempat merupakan eksploitasi tanah bekas transmigrasi seluas 24 hektare buat pengembangan upaya agrosilvopastoral ataupun pengurusan sayur- mayur berintegrasi dengan perawatan peliharaan jawi serta kambing. Kelima adaah pengembangan kemampuan Situ Nyandeng buat pengurusan air minum bungkusan yang pemasarannya direncanakan buat industri sawit di dekat desa.

Dengan bermacam usaha itu, tutur Agustinus, Merabu yang sebelumnya ialah desa terasing di asal bengawan yang awal mulanya cuma dapat diakses dengan perahu ketinting, saat ini telah bertumbuh jadi dusun yang modern, tetapi senantiasa melindungi adat istiadat serta pula kelestarian area. Saat ini jalur bumi telah bocor, terdapat listrik dari PLTS yang sedemikian itu berakhir dibentuk, diserahkan ke dusun buat pengelolaannya, tutur Agustinus.

Komitmen Dalam Melakukan Rancangan

Tetapi, ia menerangkan, jalur mengarah terjadinya Merabu yang saat ini nyata bukan jalur yang gampang. Terdapat 3 kunci yang bagi ia wajib dipunyai warga buat dapat membuat dusun yang maju dengan senantiasa melindungi kelestarian area.

Awal, membuat pemahaman bersama, membuat kesalingpahaman antara warga serta penguasa dusun hal berartinya pembangunan hijau. Kedua, menata pemograman pembangunan yang bagus yang cocok dengan kemampuan dusun. Ketiga, butuh terdapat komitmen serta integritas penguasa dusun buat melindungi pembangunan yang kekal.

Atasan yang menggenggam komitmen, walaupun kita telah terdapat 3 kali ubah kepala dusun, satu serupa yang lain komitmennya serupa. Kita sempat dikunjungi penanam modal batubara, setelah itu timbul sawit, tetapi dengan komitmen kokoh kita menyangkal. Spesialnya sawit kita telah komitmen area kita bukan area sawit, kita menyangkal sawit sebab jika sawit dibuka, air yang bening hendak tidak bening lagi, kita cukupkan diri dengan yang telah terdapat yang bagi kita bagus, pungkas Agustinus.